Riau-99news.id -Inhu — Dunia supervisi akademik di lingkungan sekolah menengah atas kini mencatatkan babak baru yang revolusioner. Di bawah kepemimpinan Nurlaila, MA, SMAN 1 Kelayang sukses memperkenalkan terobosan cemerlang bertajuk SI ASAMPEDAS (Supervisi Inovatif AI dan Micro-Coaching Deep Learning). Inovasi ini berhasil menyulap momok “supervisi yang menghakimi” menjadi ruang aman yang humanis bagi para pendidik.
Selama ini, supervisi kerap kali mendatangkan kecemasan psikologis bagi guru di kelas. Berdasarkan triangulasi data awal yang dihimpun melalui angket, observasi langsung, hingga Rapor Pendidikan, tercatat sebanyak 78,1% guru merasa cemas menjelang supervisi. Tak hanya itu, 94% kegiatan belajar mengajar (KBM) pun masih terpaku pada metode hafalan (Lower Order Thinking Skills / LOTS) dengan minimnya integrasi teknologi.
Melihat tantangan tersebut, Nurlaila menghadirkan SI ASAMPEDAS yang memadukan empat pilar strategis: Analisis berbasis AI, Sinergi Kombel/Peer-Tutor Digital, Aksi Gamifikasi (Challenge Board), serta Micro-Coaching.
Dalam implementasinya, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) diposisikan murni sebagai co-pilot untuk membantu mengolah data observasi dan memetakan area pengembangan guru. Kendati demikian, kendali utama dan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia secara humanis.
Pendekatan ini terbukti ampuh. Angka kecemasan guru yang tadinya berada di level mengkhawatirkan (78,1%), merosot tajam hingga tersisa 9,4% saja, dengan tingkat keterlaksanaan supervisi mencapai 100% dari total 32 guru di sekolah tersebut.
Transformasi kultural ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan guru, tetapi juga langsung merambah ke kualitas peserta didik. Pembelajaran di kelas kini bergeser menuju Deep Learning, di mana para siswa terbiasa melatih penalaran kritis, menyampaikan argumen berbasis bukti, serta mengasah kemampuan metakognisi.
Bukti nyata dari efektivitas model ini terlihat dari capaian prestasi peserta didik, salah satunya Gia Sherlianti, siswa berprestasi nasional yang sukses meraih Golden Ticket PTN, serta suksesnya delegasi sekolah dalam ajang Olimpiade PAI Nasional 2026.
Gelombang perubahan ini rupanya menarik perhatian luas dari satuan pendidikan lain. Model SI ASAMPEDAS kini telah direplikasi oleh SMAN 2 Rakit Kulim serta mendapat apresiasi penuh dari SMAN 1 Lirik sebagai praktik baik (best practice). Pengimbasan ini turut diperkuat melalui jaringan MKKS, MGMP PAI Indragiri Hulu, hingga platform digital Blog Cekgu Laila.
“Supervisi bukan untuk mencari kesalahan, melainkan menemukan kekuatan dan membuka ruang untuk bertumbuh,” ungkap Nurlaila, MA, menegaskan filosofi di balik gerakan moral pendidikan yang ia pimpin.
Dengan manajemen risiko etika digital yang ketat serta kolaborasi lintas generasi antara guru senior dan junior, SI ASAMPEDAS kini kokoh berdiri sebagai simbol kebangkitan mutu pendidikan yang berpusat pada peserta didik di bumi Indragiri Hulu. (Redaksi)

